Try: LISTMODE

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 48 TAHUN 2016
TENTANG
STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERKANTORAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
BAB II
PENYELENGGARAAN K3 PERKANTORAN
Bagian Ketiga
Standar K3 Perkantoran
Paragraf 1
Umum
Pasal 11
(1) Standar K3 Perkantoran meliputi:      
a. keselamatan kerja;      
b. kesehatan kerja;      
c. kesehatan lingkungan kerja perkantoran; dan      
d. Ergonomi Perkantoran.      
(2) Standar K3 Perkantoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk mencegah dan mengurangi penyakit akibat kerja dan penyakit lain, serta kecelakaan kerja pada karyawan, dan menciptakan perkantoran yang aman, nyaman dan efisien untuk mendorong produktifitas kerja.      
Paragraf 2
Standar Keselamatan Kerja
Pasal 12
Standar Keselamatan Kerja meliputi:      
a. persyaratan keselamatan kerja Perkantoran; dan      
b. kewaspadaan bencana perkantoran.      
Pasal 13
Persyaratan Keselamatan Kerja Perkantoran dimaksud dalam Pasal 12 huruf a terdiri atas:      
a. pelaksanaan pemeliharaan dan perawatan ruang perkantoran;      
b. desain alat dan tempat kerja;      
c. penempatan dan penggunaan alat perkantoran; dan/atau      
d. pengelolaan listrik dan sumber api.      
Pasal 14
1. Kewaspadaan Bencana Perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b meliputi:      
a. manajemen tanggap darurat gedung;      
b. manajemen keselamatan dan kebakaran gedung;      
c. peryaratan dan tata cara evakuasi;      
d. penggunaan mekanik dan elektrik; dan      
e. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).      
(2) Manajemen tanggap darurat gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:      
a. identifikasi risiko kondisi darurat atau bencana;      
b. penilaian analisa risiko kerentanan bencana;      
c. pemetaan risiko kondisi darurat atau bencana;      
d. pengendalian kondisi darurat atau bencana;      
e. simulasi kondisi darurat atau bencana; dan      
f. mengatasi dampak yang berkaitan dengan kejadian setelah bencana.      
(3) Manajemen keselamatan dan kebakaran gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus didukung dengan:      
a. sarana penyelamatan gedung; dan      
b. peralatan sistem perlindungan/pengamanan bangunan gedung dari kebakaran yang di pasang pada bangunan gedung.      
(4) Sarana penyelamatan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a meliputi:      
a. tangga darurat; dan/atau      
b. pintu darurat.      
(5) Peralatan sistem perlindungan/pengamanan bangunan gedung dari kebakaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b paling sedikit meliputi:      
a. Alat Pemadam Api Ringan (APAR);      
b. Alat Pemadam Api Berat (APAB) yang menggunakan roda;      
c. sistem alarm kebakaran;      
d. hydrant halaman;      
e. pemadam kebakaran tetap yang menggunakan media pemadaman air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-pipa dan selang;      
f. sistem sprinkler otomatis; dan      
g. sistem pengendalian asap.      
(6) Peryaratan dan tata cara evakuasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi rute dan pelaksanaan evakuasi.      
(7) Penggunaan mekanik dan elektrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.      
(8) Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi persyaratan pelaksanaan dan sumber daya yang diperlukan dalam pertolongan pertama pada kecelakaan.      
Paragraf 3
Standar Kesehatan Kerja
Pasal 15
Standar Kesehatan Kerja meliputi:      
a. peningkatan Kesehatan Kerja di Perkantoran;      
b. pencegahan penyakit di Perkantoran;      
c. penanganan penyakit di Perkantoran; dan      
d. pemulihan kesehatan bagi karyawan di Perkantoran.      
Pasal 16
Peningkatan Kesehatan Kerja di Perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a paling sedikit terdiri atas:      
a. peningkatan pengetahuan kesehatan kerja;      
b. pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja;      
c. penyediaan ruang ASI dan pemberian kesempatan memerah ASI selama waktu kerja di Perkantoran; dan      
d. aktivitas fisik.      
Pasal 17
(1) Pencegahan penyakit di Perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b paling sedikit meliputi:      
a. pengendalian faktor risiko; dan      
b. penemuan dini kasus penyakit dan penilaian status kesehatan.      
(2) Pengendalian faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya:      
a. eliminasi;      
b. subsitusi;      
c. pengendalian teknis atau rekayasa;      
d. pengendalian administratif; dan/atau      
e. penggunaan alat pelindung diri.      
(3) Penemuan dini kasus penyakit dan penilaian status kesehatan dilakukan melalui:      
a. Pemeriksaan kesehatan pra penempatan atau sebelum bekerja;      
b. pemeriksaan kesehatan berkala;      
c. pemeriksaan kesehatan khusus; dan      
d. pemeriksaan kesehatan pra pensiun.      
(4) Pemeriksaan kesehatan berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali setahun.      
Pasal 18
(1) Penanganan penyakit di Perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c ditujukan untuk mengobati secara dini penyakit dan mencegah keparahan dari penyakit menular dan penyakit tidak menular, gangguan kesehatan, penyakit akibat kerja, penyakit terkait kerja, dan cidera akibat kerja.      
(2) Penanganan penyakit di Perkantoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas:      
a. pertolongan pertama pada penyakit; dan      
b. mekanisme rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.      
Pasal 19
Pemulihan kesehatan bagi karyawan di Perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf d paling sedikit terdiri atas:      
a. melaksanakan program kembali bekerja bagi karyawan yang telah mengalami sakit parah atau kecelakaan kerja dengan kondisi tidak dapat mengerjakan tugas semula; dan      
b. pengkondisian karyawan untuk dapat bekerja kembali sesuai dengan kemampuannya.      
Paragraf 4
Standar Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran
Pasal 20
(1) Standar kesehatan lingkungan kerja Perkantoran meliputi:      
a. standar dan persyaratan kesehatan lingkungan Perkantoran; dan      
b. standar lingkungan kerja Perkantoran.      
(2) Standar dan persyaratan kesehatan lingkungan Perkantoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:      
a. sarana bangunan;      
b. penyediaan air;      
c. toilet;      
d. pengelolaan limbah;      
e. cuci tangan pakai sabun;      
f. pengamanan pangan; dan      
g. pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit.      
(3) Standar lingkungan kerja Perkantoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi aspek fisika, kimia, dan biologi.      
Paragraf 5
Standar Ergonomi Perkantoran
Pasal 21
Standar Ergonomi Perkantoran meliputi:      
a. luas tempat kerja;      
b. tata letak peralatan kantor;      
c. kursi;      
d. meja kerja;      
e. postur kerja;      
f. koridor;      
g. durasi kerja; dan      
h. penanganan beban manual (manual handling).      
Paragraf 6
Pengaturan Lebih Lanjut
Pasal 22
Ketentuan lebih lanjut mengenai standar K3 Perkantoran tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.      

Dokumen: