BAB II
PERSYARATAN PEMBAYARAN MANFAAT JAMINAN HARI TUA
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 4
Manfaat JHT dibayarkan kepada Peserta jika:      
a. mencapai usia pensiun;     
b. mengalami cacat total tetap; atau     
c. meninggal dunia.     
Pasal 5
(1) Peserta yang mencapai usia pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a termasuk juga Peserta yang berhenti bekerja.     
(2) Peserta yang berhenti bekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:     
a. Peserta yang mengundurkan diri;     
b. Peserta yang terkena pemutusan hubungan kerja; dan     
c. Peserta yang meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.     
Bagian Kedua
Peserta Mencapai Usia Pensiun
Pasal 6
(1) Manfaat JHT bagi Peserta yang mencapai usia pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a dibayarkan secara tunai dan sekaligus kepada Peserta pada saat:     
a. mencapai usia pensiun sebagaimana diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama; atau     
b. mencapai usia 56 (lima puluh enam) tahun.     
(2) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), manfaat JHT dapat dibayarkan kepada:     
a. Peserta karena berakhirnya jangka waktu dalam perjanjian kerja; atau     
b. Peserta bukan penerima upah karena berhenti bekerja.     
Pasal 7
Permohonan pembayaran manfaat JHT bagi Peserta yang mencapai usia pensiun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat diajukan oleh Peserta kepada BPJS Ketenagakerjaan, dengan melampirkan:      
a. Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan; dan     
b. kartu tanda penduduk atau bukti identitas lainnya.     
Bagian Ketiga
Peserta yang Mengundurkan Diri
Pasal 8
Manfaat JHT bagi Peserta yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf a dapat dibayarkan secara tunai dan sekaligus setelah melewati masa tunggu 1 (satu) bulan terhitung sejak diterbitkan keterangan pengunduran diri dari pemberi kerja.      
Pasal 9
Pengajuan pembayaran manfaat JHT bagi Peserta yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 disampaikan oleh Peserta kepada BPJS Ketenagakerjaan, dengan melampirkan:      
a. Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan;     
b. kartu tanda penduduk atau bukti identitas lainnya; dan     
c. keterangan pengunduran diri dari pemberi kerja tempat Peserta bekerja.     
Bagian Keempat
Peserta yang Terkena Pemutusan Hubungan Kerja
Pasal 10
Manfaat JHT bagi Peserta yang terkena pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b dapat dibayarkan secara tunai dan sekaligus setelah melewati masa tunggu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal pemutusan hubungan kerja.      
Pasal 11
Pengajuan pembayaran manfaat JHT bagi Peserta yang terkena pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 disampaikan oleh Peserta kepada BPJS Ketenagakerjaan, dengan melampirkan:      
a. Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan;     
b. kartu tanda penduduk atau bukti identitas lainnya; dan     
c. tanda terima laporan pemutusan hubungan kerja dari instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan, atau surat laporan pemutusan hubungan kerja dari pemberi kerja kepada instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan, atau pemberitahuan pemutusan hubungan kerja dari pemberi kerja dan pernyataan tidak menolak PHK dari pekerja, atau perjanjian bersama yang ditandatangani oleh pengusaha dan pekerja/buruh, atau petikan atau putusan pengadilan hubungan industrial.     
Bagian Kelima
Peserta Yang Meninggalkan Indonesia Untuk Selama-Lamanya
Pasal 12
(1) Manfaat JHT bagi Peserta yang meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf c dibayarkan kepada Peserta yang merupakan warga negara asing.     
(2) Manfaat JHT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayarkan pada saat sebelum atau setelah Peserta meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.     
Pasal 13
Pengajuan pembayaran manfaat JHT bagi Peserta yang meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 disampaikan oleh Peserta kepada BPJS Ketenagakerjaan, dengan melampirkan:      
a. Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan;     
b. paspor; dan     
c. surat pernyataan tidak bekerja lagi di Indonesia.     
Bagian Keenam
Peserta Mengalami Cacat Total Tetap
Pasal 14
(1) Manfaat JHT bagi Peserta yang mengalami cacat total tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b dibayarkan kepada Peserta yang mengalami cacat total tetap sebelum mencapai usia pensiun.     
(2) Hak atas manfaat JHT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperhitungkan mulai tanggal 1 (satu) bulan berikutnya setelah Peserta ditetapkan mengalami cacat total tetap.     
(3) Mekanisme penetapan cacat total tetap dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.     
Pasal 15
Pengajuan pembayaran manfaat JHT bagi Peserta yang mengalami cacat total tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 disampaikan oleh Peserta kepada BPJS Ketenagakerjaan, dengan melampirkan:      
a. Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan;     
b. kartu tanda penduduk atau bukti identitas lainnya; dan     
c. surat keterangan dokter pemeriksa dan/atau dokter penasihat.     
Bagian Ketujuh
Peserta Meninggal Dunia
Pasal 16
(1) Manfaat JHT bagi Peserta yang meninggal dunia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c dibayarkan kepada ahli waris Peserta.     
(2) Ahli waris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:     
a. janda;     
b. duda; atau     
c. anak.     
(3) Dalam hal janda, duda, atau anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak ada, manfaat JHT dibayarkan sesuai urutan sebagai berikut:     
a. keturunan sedarah Peserta menurut garis lurus ke atas dan ke bawah sampai derajat kedua;     
b. saudara kandung;     
c. mertua; dan     
d. pihak yang ditunjuk dalam wasiatnya oleh Peserta.     
(4) Dalam hal pihak yang ditunjuk dalam wasiat Peserta sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d tidak ada, manfaat JHT dikembalikan ke Balai Harta Peninggalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.     
Pasal 17
(1) Pengajuan pembayaran manfaat JHT oleh ahli waris bagi Peserta yang meninggal dunia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 disampaikan oleh ahli waris Peserta kepada BPJS Ketenagakerjaan, dengan melampirkan:     
a. Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan;     
b. surat keterangan kematian dari dokter atau pejabat yang berwenang;     
c. surat keterangan ahli waris dari pejabat yang berwenang atau surat penetapan ahli waris dari pengadilan; dan     
d. kartu tanda penduduk atau bukti identitas lainnya dari ahli waris.     
(2) Dalam hal Peserta yang meninggal dunia merupakan warga negara asing, pengajuan manfaat JHT disampaikan oleh ahli waris Peserta dengan melampirkan:     
a. Kartu Peserta BPJS Ketenagakerjaan;     
b. surat keterangan kematian dari pejabat yang berwenang;     
c. dokumen keterangan sebagai ahli waris yang diterbitkan oleh instansi atau pejabat yang berwenang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; dan     
d. paspor atau bukti identitas lainnya dari ahli waris.     
PERATURAN TERKAIT
  1. TATA CARA DAN PERSYARATAN PEMBAYARAN MANFAAT JAMINAN HARI TUA
    Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 2 Tahun 2022